Tampilkan postingan dengan label Pembekalan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembekalan Hidup. Tampilkan semua postingan

Budaya Membaca, itu Ibadah

Era Techno Dapat info menarik niy, dan langsung saya share di sini yahh mengenai manfaat membaca, silahkan disimak baik-baik yahh.
Menurut temuan UNDP tahun 2004, Human Development Index (HDI) kita berada pada peringkat ke 112 dari 175 negara jauh ketinggalan dari negara tetangga seperti Singapura (2Micek, Brunei Darussalam (31), Malaysia (5Micek, Thailand (74), Filipina (85), dan Vietnam (109). Ini menunjukkan bahwa standar hidup dan kualitas hidup bangsa Indonesia masih sangat rendah.

Hal ini berdampak pula pada tingkat budaya masyarakatnya termasuk budaya membaca. Kenyataan ini memperlihatkan adanya kompleksitas persoalan yang menyelimuti bangsa Indonesia. Rendahnya kualitas hidup bangsa Indonesia salah satunya karena pengetahuan masyarakat masih rendah.


Pengetahuan masyarakat rendah karena budaya membaca masyarakat rendah. Budaya membaca masyarakat rendah karena standar hidupnya rendah.
Begitulah lingkaran setan problem kebangsaan kita saat ini. Untuk keluar dari lingkaran masalah ini diperlukan keterlibatan semua pihak untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan tersebut. Kalau kita kembali berkaca pada negara-negara maju, sesungguhnya membaca menjadi prasyarat mutlak untuk mencapai kemajuan.

Dengan membaca berarti kita sedang berproses menuju satu kemajuan. Membangun budaya baca, bukan sekadar menyediakan buku atau ruang baca, tetapi juga membangun pemikiran, perilaku, dan budaya dari generasi yang tidak suka membaca menjadi generasi suka membaca. Dari generasi yang asing dengan buku menjadi generasi pencinta buku. Dan dari sana kreativitas dan transfer pengetahuan bisa berlangsung dan berkembang.

Masyarakat Indonesia belum menempatkan buku sebagai kebutuhan setelah sandang, pangan, dan papan. Masyarakat masih dalam budaya melihat dan mendengar, bukan budaya membaca. Di sinilah diperlukan dorongan baik berupa kebijakan maupun nilai-nilai yang mendorong tumbuhnya minat baca.

Agama sesungguhnya memiliki peran penting bagi tumbuhnya budaya membaca. Sebagai bangsa yang dikenal religius, seharusnya budaya membaca menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya masyarakat kita. Apalagi agama sendiri memerintahkan umatnya untuk selalu membaca. Di dalam Islam sangat jelas bahwa membaca menjadi perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.

Sungguh sebuah ironi dalam masyarakat yang mayoritas muslim ini, budaya membaca masih jauh dari harapan. Ini membuktikan bahwa agama masih dipahami sebatas ajaran, belum menjadi bagian tak terpisahkan dari perilaku dan aktivitas hidup kita. Padahal dari membaca itulah peradaban Islam pernah mencapai puncaknya dengan munculnya filosof dan tokoh muslim yang sampai saat ini memiliki pengaruh yang luas. Franz Rosenthal, seorang orientalis terkemuka, mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban tulis. Penerjemahan besar-besaran dari karya-karya, terutama berbahasa Yunani dan perpustakaan yang didirikan menjadi penyangga peradaban Islam.

Begitu pun dengan agama lain. Keberadaan kitab suci yang dimiliki oleh masing-masing agama menjadi bukti historis bahwa umat beragama harus bisa dan selalu membaca. Walaupun perkembangan teknologi informasi begitu pesat, buku tetap menjadi media yang tak terkalahkan. Kemajuan sebuah bangsa bukan berasal dari melihat atau mendengarkan, tapi dari membaca catatan-catatan, literatur, dan berkas-berkas tertulis. Nicholas Negroponte, profesor Teknologi Media di Massachussets Institute of Technology, menyatakan bahwa membaca buku atau tulisan bisa membangkitkan imajinasi-imajinasi dan metafor-metafor yang menggugah kreativitas yang tidak bisa didapatkan dari menonton televisi atau mendengarkan musik.

Karena begitu pentingnya budaya membaca bagi kemajuan bangsa di satu sisi dan karena kompleksitas persoalan yang melingkupi budaya membaca di sisi yang lain, maka sudah saatnya semua kalangan baik pemerintah, agamawan, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia perbukuan memberikan kepedulian yang lebih bagi tumbuhnya budaya membaca. Pendirian taman-taman bacaan di berbagai tempat, penerjemahan buku-buku asing yang bermutu, penyediaan buku-buku murah dan terjangkau, serta keteladanan tokoh masyarakat dalam membaca dan menulis buku-buku merupakan langkah strategis bagi pemberdayaan budaya baca masyarakat.


Code:
Sumber: Penulis –> A.M. Fatwa dari Yayasan AdiCitra Karya Nusa
http://bukuubahdunia.wordpress.com/category/artikel/

.....Baca Selengkapnya»»

Makna Kata Kehidupan

seekor tiram mengeluh terhadap kerang yang lain, "Perutku sakit sekali. Seperti ada batu.
Aduh! aku gelisah banget."
Tiram yang lain menanggapi kawannya, "syukur Alhamdulillah, aku tidak sakit. Puji Tuhan, aku
sehat!"
Seekor kepiting yang sedang menguping pembicaraan mereka memberi komentar, "Yang sehat, boleh ber
syukur! Tetapi yang sakit itu justru sedang mengandung. Ia akan melahirkan sebutir mutiara yang tak terhingga
harganya.


Seorang petani menemukan sebuah patung antik. Ia tidak mengetahui nilainya. Dan ketika seorang
pedagang menawarkan sekeping uang perak untuk patung itu, ia langsung menjualnya.
Beberapa minggu kemudian, petani itu ke kota untuk menjual hasil panennya. Didepan salah satu kios, ia melihat
antrean yang panjang sekali.
Silahkan antri! Dan sediakan 2 keping uang perak untuk melihat patung antik yang ajaib!"
Karena ingin tahu patung antik seajaib apa yang dipamerkan, ia membayar dua keping uang perak lalu ikut antri
Ternyata, patung yang dipamerkan itu adalah patung yang sama, yang pernah ia jual dengan sekeping uang perak.

Hola mendatangi Guru Aka yang kurang lebih sama gobloknya:

Guru, Guru mohon bekal untuk perjalanan

Sang Guru bertanya:

Memang mau kemana kau?Bekal Apa?

Hola menjawab :

Mau ke negeri Paman Sam, Guru. Dapat job di sana. Mohon sepatah dua patah kata
yang dapat kujadikan bekal bagi jiwaku.


Guru Aka memejamkan mata, berpikir lama. Kebetulan otaknyasedang beristirahat, nggak keluar apa - apa.
Tapi bagaimanapun ia harus memberi sesuatu...terpaksa asal bunyi saja..:

Hidup ini bagaikan air mancur.

Hola seneng banget:

Wah hebat sungguh hebat, Guru. Hidup ini bagaikan air mancur. Akan selalu kuingat petuahmu


Di negeri Paman Sam, Hola sukses berat.
Beberapa tahun kemudian, ia mudik dan mendatangi gurunya:

Guru, petuahmu sungguh luar biasa. Hidup bagaikan air mancur. Setiap ada masalah kuingat nasehatmu
dan berkat doa restumu aku selalu berhasil mengatasi masalah. Sekarang, bila aku pikir kembali, sungguhnya aku tidak
mengerti kenapa hidup ini bagai air mancur?Katakan Guru, apa maksudmu?



Guru Aka ketawa terbahak - bahak:

Mana Kutahu? Yang penting, petuah itu bergunabagimu kan?Ya sudah, untuk apa cari makna?

---------------------------------****----------------------------------------------
Sumber dari mana saja....koleksi..Kahlil Jibran & Anand Krishna.......

.....Baca Selengkapnya»»

Pemancing Cilik

Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat
sangat menikmati permainannya.

Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit.
Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.
Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan?
Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.

"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.

"Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan kepadamu, kenapa engkau tolak?"

"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.

"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"

Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan
ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.

Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.

Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"

Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang
hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik.
Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."

Pembaca yang budiman,

Sama seperti dalam kehidupan ini, sebenarnya untuk meraih kesuksesan kita tidak membutuhkan teori-teori yang rumit, semua sederhana saja, Sepanjang kita tahu apa yang kita mau, dan kemudian mampu memaksimalkan potensi yang kita miliki sebagai modal, terutama dengan menggali kelebihan dan mengasah bakat kita, maka kita akan bisa mencapai apa yang kita impikan dan cita-citakan. Apalagi, jika semua hal tersebut kita kerjakan dengan senang hati dan penuh kesungguhan.

Dengan mampu mematangkan kelebihan-kelebihan kita secara konsisten, maka sebenarnya kita sedang memupuk diri kita untuk menjadi ahli di bidang yang kita kuasai. Sehingga, dengan profesionalisme yang kita miliki, apa yang kita perjuangkan pasti akan membuahkan hasil yang
paling memuaskan.

Di Postkan Oleh : SystemOfDown (YogyaFree)

.....Baca Selengkapnya»»

Recent Comment

Recent Post